Belajar Memaafkan dan Ikhlas



oleh Ummu Mufais

Di dalam Ash-Shahi disebutkan dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda:

"Artinya : Sesungguhnya Allah tidak melihat tubuh kalian dan tidak pula rupa kalian, tetapi Dia melihat hati kalian." [Hadits Riwayat Muslim]

Karena hati adalah cerminan akhlaq setiap manusia, bila hati seseorang itu rusak maka rusak pulalah jasadnya.

Di dalam hadist Rosulullah SAW, disebutkan bahwa “….di dalam jasad itu ada sekerat daging, jika ia baik, maka baiklah jasad itu seluruhnya, dan jika ia rusak, maka rusaklah jasad itu seluruhnya. Alaa wahiyal qolbu. Itulah hati.” (HR Bukhari dan Muslim)

Itulah hati yang selalu menjadi raja dalam diri kita, apa bila kita tidak mengendalikannya dengan baik, maka hati itu akan menjerumuskan kita pada perbuatan dosa, syirik, dengki, dendam dan pemarah. Setiap manusia di berikan hati oleh Allah swt untuk menentukan satu kebaikan, apa bila hati itu tidak di bimbing dengan baik, maka dia akan rusak, serta membawa jasad kita pada keburukan akhlaq. Nauzubillahi min zalik.

Ketika masa SMA dulu, saya sering mendengar perseteruan antara teman, yang mungkin sebenarnya dapat di selesaikan dengan baik, namun tahun sudah berlalu, rasa sakit itu masih di bina, sehingga ketika bertemu, bagai dua orang yang tidak pernah kenal satu sama lain. Ini mungkin yang harus kita perbaiki, dimana setiap hati itu kita yang mengendalikan, dan bila si empunya hati itu terus menerapkan keikhlasan, maka tidak akan terjadi saling tuding dan saling emosi yang mengakibatkan jidal ( saling menjawab/ bantah-bantahan). Sering kali kita lupa pada diri kita, bila kita sudah melihat keburukan seseorang, banyak argumentasi yang selalu ingin membenarkan diri kita sendiri.

Sesungguhnya sifat pemaaf itu lah yang membentuk diri kita menjadi seseorang yang berhati mulia dan Allah s.w.t menyukai orang-orang yang bersifat pemaaf.

Firman Allah swt, yang bermaksud: "Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain, Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan" (Surah Al-Imran:Ayat 134)

Saya telah banyak dapat pelajaran berharga dari si kecil. Saat ini dia berumur 10 tahun, sejak kecil saya sudah mengajarkannya untuk menjadi orang pemaaf, demikian juga dengan kedua anak saya yang lain. Tapi memang si kecil ini lebih kritis dari kedua kakaknya, sehingga sering sekali saya mendapat teguran darinya. Contohnya saja ketika dia masih di sekolah TK, hampir setiap hari saya harus mengantar dan menjemputnya.

Suatu hari saya pernah mendapat teguran darinya, saat itu saya sedang menjemputnya dari TK, dan pada saat hendak naik Tram ( kereta ), si kecil saya melihat ada seorang nenek menbawa tas berat, dan saya sama sekali tidak memperhatikannya, tiba-tiba dia menegur saya " Ummi...kenapa kok Ummi gak bantuin nenek itu sih ?, kan kasihan, nanti kalau Ummi sudah tua juga kayak dia gimana? " Saya benar-benar tersentuh dengan tegurannya, saya tidak menyangka dia akan berkata demikian, karena memang sejak tadi saya tidak memperhatikan nenek itu sama sekali.

Sejak saat itu saya harus lebih hati-hati lagi dalam melakukan sesuatu, seperti beberapa hari lalu, saya juga di kejutkan dengan ulahnya. Saat itu dia pulang dengan membawa coklat yang masih utuh, padahal coklat itu saya berikan untuknya sebagai tambahan, bila nanti di sekolah dia masih lapar, tapi rupanya dia tidak memakannya, padahal setahu saya dia sangat suka sekali dengan coklat itu. Ketika saya tanya, "kenapa coklatnya belum di makan", dia menjawab

" sebenarnya coklat ini tadi ismail kasihin ke daniel, tapi dia minta pegangin dulu, lalu kebawa pulang deh "

Jawaban itu membuat hati saya terharu, karena baru saja kemarin anak saya di buat kesal oleh temannya itu. ceritanya temannya itu memberi kertas mainan kepadanya, tapi ketika dia hendak pulang kertas itu di mintanya kembali, terlihat di wajahnya sangat sedih, begitu dia sampai di rumah. Dan saat itu anak saya ingin memberikan coklat kesayangannya itu untuk temannya yang sudah menyakitinya. Ketika saya tanya lagi pada dia,

" kenapa coklat itu hendak di berikan ke temannya "

" karena dia kan teman Ismail " ,

subhanallah nak sungguh bersih hati mu, semoga Allah swt menjaganya senantiasa.

Itu semua jadi pelajaran untuk saya, agar senantiasa membersihkan hati dari dendam dan senantiasa ikhlas, walaupun mungkin kita sudah di sakitinya, namun memaafkan itu lebih indah dari pada menyimpan dendam. Kadang kita merasa dia ( teman kita) sudah menyakiti kita, tapi apakah teman kita itu tahu bahwa kata-katanya telah membuat kita tersinggung, adakalanya kita terlalu sensitif dan terlalu berperasaan, sehingga tidak memakai logika yang baik. Saya juga pernah dapat nasehat dari kakak saya, saat itu saya juga sedang tersinggung dengan seseorang, ketika saya mengadukan hal itu pada kakak saya, lalu kakak saya mengatakan :

" kalau seseorang telah menyakiti kamu, lihatlah satu kebaikan yang pernah dia perbuat terhadap kamu, maka kamu akan terlupa dengan kata-kata atau perbuatannya yang manyakiti kamu, dan kamu akan memaafkannya ".

Itulah hati, sekerat daging yang ada di dalam tubuh kita, yang kian hari kian baik bila kita memeliharanya dengan menumbuhkan cinta serta ikhlas kepada siapa pun. Dan juga pada yang memberikan hati yaitu ALLAH Azza wa Jalla.

Seperti dikatakan Rasullulah SAW dalam sebuah Hadits. “Hati itu ada empat, yaitu hati yang bersih, di dalamnya ada pelita yang bersinar. Maka, itulah hati orang mukmin. Hati yang hitam lagi terbalik, maka itu adalah hati orang kafir. Hati yang tertutup yang terikat tutupnya, maka itu adalah hati orang munafik, serta hati yang dilapis yang di dalamnya ada iman dan nifak.” (HR. Ahmad dan Thabrani).

Mari teman-teman kita bersihkan hati kita dari segala penyakit hati, perangilah hati kita dari semua keburukan, karena hati merupakan hakikat manusia,
sekaligus menjadi cermin kebaikan dan kerusakannya. Kita tidak harus memburu hati kita dengan senapan, seperti perang yang terjadi di Palestina dengan para zionis israel, karena memang seluruh dunia tahu bahwa perang itu adalah untuk menumpas kebathilan, berbeda dengan kita, yang hanya memerangi hati kita dari penyakit hati, dengan cara dzikir dan berdoa, serta memohon pada yang Maha Kuasa agar hati kita di tetapkan dalam kebaikan.

Ingatkah kita tentang cerita Rosulullah saw kepada Anas bin Malik, ketika itu Beliau sedang berkumpul dengan para sahabat, lalu Beliau mengtakan kepada para sahabat, akan datang seorang ahli syurga. Sehingga salah satu dari sahabat sempat bermalam di rumahnya, untuk mengetahui apa saja yang telah di kerjakan oleh ahli syurga tersebut, namun tidak ada yang istimewa dengan nya, melainkan ketika dia hendak tidur, dia selalu memaafkan dan tidak punya dendam pada siapa pun. Jadi memang tidak ada yang istimewa darinya, kecuali kebersihan hati yang di milikinya.

Inginkah kita juga menjadi ahli syurga...? jadilah hamba Allah yang pemaaf yang selalu membersihkan hati kita dari segala penyakit hati. Dan jangan lupa pula, kita doa kan teman-teman kita yang mungkin tidak sengaja telah menyinggung perasaan dan hati kita, saat berinteraksi dengan kita, semoga Allah swt memberi hidayah kepadanya. Amiin ya Robbal´alamiin.

Anak adalah titipan dari Allah



oleh Ummu Mufais

Nenek itu terlihat lagi di jalan, sudah beberapa kali ini saya berjumpa dengannya, nenek itu berkebangsaan Rusia dan sudah lama tinggal di Jerman. Namun tak pernah saya lihat dia bersama dengan suami atau anaknya.

Seperti biasa saya segera menghapirinya dan mengulurkan tangan saya, untuk berjabat tangan. Dia langsung menyambutnya dengan senyuman yang begitu manis, sambil memegang erat tangan saya dia berkata " Du bist noch yung " (kamu masih muda ), dengan suara yang hampir tidak terdengar dan wajahnya nampak terlihat agak muram. Lalu dia meneruskan ceritanya " Saya sudah tua, umur saya sudah 81 tahun, suami saya sakit dan tidak bisa lagi di ajak jalan-jalan, sedangkan anak saya sibuk sekali. " Ooo rupanya itu yang hendak dia ceritakan pada saya, namun setelah semua cerita itu selesai, wajahnya kembali ceria lagi, sambil memandangi anak saya satu persatu.

Tidak lama kemudian saya berpamitan, karena saya harus segera pergi. Di dalam mobil saya masih terus saja terbayang wajahnya, mungkin nenek itu ingin sekali di temani setiap saat jalan-jalan, atau mungkin sekedar untuk mendengarkan cerita-ceritanya. Saya jadi teringat kedua Orang tua saya yang sudah renta, beliau berada jauh di negri sebrang, saya tidak dapat memperhatikannya setiap saat.
Mungkin di saat tua inilah beliau membutuhkan kasih sayang, teman untuk bercerita, teman untuk mengeluh dan teman untuk mengajaknya jalan-jalan pagi.

Oh...Ibu maaf kan anak mu yang mungkin belum sempat membahagiakan mu, saya tengok anak-anak saya satu-persatu yang duduk di belakang, mereka berebut bicara untuk mengatakan kalau nenek tadi adalah, nenek dari temannya yang biasa bermain bersamanya.

Dulu ketika saya masih di Kassel dan harus menjalani Operasi, saya juga bertemu dengan seorang nenek yang mengeluhkan tentang anak-anaknya pula, kebetulan saya satu kamar dengannya. Dia mengatakan pada saya, " sekarang anak-anak kamu masih kecil-kecil dan masih nurut, serta masih memberi perhatian pada kamu, tapi nanti kalau anak kamu sudah besar, maka mereka tidak akan perduli lagi dengan kamu. Ini, contohnya saja saya, sudah seminggu saya berada di rumah sakit tidak ada satupun anak saya yang membesuk saya " sambil mengusap air matanya, nenek itu seakan tenang telah mendapat tempat untuk melepas semua kesedihannya.

Tanpa sengaja saya langsung berkata, " anggaplah saya anak kamu, saya akan memanggil kamu Ibu " terlihat wajahnya begitu ceria dan bahagia sekali, saya juga tidak menyangka, saya begitu entengnya mengatakan hal itu.
Saya berdoa semoga anak saya tidak seperti yang dia katakan, semoga anak-anak saya menjaga saya di hari tua, dan mentalkin saya ketika tugas saya di dunia ini telah berakhir, Semua itu sebenarnya tergantung dari bagaimana kita sebagai Orang tua mendidik anak-anak kita sejak kecil.
Ada beberapa teman saya yang berpendapat, bahwa anak-anak itu tidak boleh di larang, biarkan anak-anak kita bermain dengan senang, dan mengekspresikan kesenangannya. Padahal ketika dulu saya masih tinggal di Braunschweig, ada seorang Ustadz yang datang dan berceramah untuk kita-kita tentang pendidikkan anak dalam Islam, Beliau mengatakan :

" Anak-anak itu bagaikan kertas putih, bila kita menuliskan sesuatu pada kertas itu dan salah, ketika kita hapus maka akan ada bekas, walaupun mungkin tidak begitu terlihat, demikian juga halnya dengan anak-anak, mereka akan terus menyimpan semua yang terjadi di masa kecil, apa lagi bila si anak tidak di atur dan tidak di didik dengan baik, maka memori yang dia simpan adalah memori itu sampai si anak besar ".

" Dalam melarang anak-anak juga kita harus punya aturan, apakah ketika anak itu sedang menggambar atau menulis di tembok kita biarkan ?, kita larang dan kita beri tahu dengan baik dan kita juga memberi contoh ".

" itulah salah satu cara untuk mendidik anak-anak kita disiplin dalam berbagai hal ". Semua yang saya dengar dari beliau, menjadi bahan untuk saya dalam mendidik anak-anak saya, saya ingin anak-anak saya berakhlaq mulia dan menjadi anak yang sholeh.
bahkan beliau sempat memberi trik pada semua ibu-ibu yang mungkin cepat marah, agar ketika si anak bertingkah laku aneh sehingga membuat kita marah, maka peluklah erat-erat anak itu dan katakan padanya " Semoga kelak kamu jadi President nak ". Hal itu akan membuat kita terlupa akan marah dan si anak juga akan menjadi baik. Mengapa beliau mengatakan demikian?, karena terkadang bila si ibu marah suka lupa untuk mengontrol diri, sehingga perkataan yang keluar itu tidak bermanfaat, padahal setiap ucapan yang keluar dari mulut seorang ibu itu adalah doa.

Subhanallah begitu terkesan bagi saya untuk memahami hal ini, mungkin bagi sebagian orang tua mendidik anak adalah sesuatu yang sangat indah, karena baginya anak adalah anugrah yang terindah yang Allah berikan kepadanya. Namun ada juga mereka yang merasa kesulitan dalam mendidik anak-anaknya, semua itu tergantung pada niat. ( Innamal a´malu binniyat )

Kini saya tahu kenapa dalam Hadist Rosulullah mendahulukan nama Ibu yang harus di hormati setelah itu baru Ayah, karena ibu adalah sekolah bagi anak-anaknya, seperti ibu-ibu yang berada di Palestina sana, mereka mendidik anak-anaknya menjadi anak-anak yang pemberani, mereka di ajarkan untuk kuat dalam bertempur dan tidak boleh takut kecuali kepada Allah semata. Mereka menjadi anak-anak yang tangguh yang selalu siap kapanpun mereka harus kembali kepada yang Maha Kuasa, mereka juga harus siap bila di antara saudara atau Orang tua mereka harus syahid terlebih dahulu, padahal mereka ada yang seumuran dengan anak-anak kita, tapi mereka telah mempunyai azam yang sangat tinggi sejak kecil.

Ya Allah jadikanlah anak-anak ku, sebagai pengikut Rosulullah yang setia, dan jagalah mereka dari siksa api neraka.
Karena sesungguhnya mereka adalah titipan dari Mu dan amanah yang sangat berat bagi ku, maka berikanlah kemudahan bagi ku dalam mendidik nya. Amiin.

Rosululloh SAW bersabda : "Tidaklah orangtua memberikan kepada anaknya pemberian yang lebih utama selain dari pendidikan yang baik " (HR. Tirmidzi & Thabrani)

Firman Allah dalam QS. At tahriim : 6

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. 66:6)

Teruntuk anak-anak Ummi tercinta di jalan Allah, maaf kan Ummi sayang, bila dalam mendidik kalian, kadang masih ada kekurangan.

Translator dari Indonesia ke . .

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Indahnya Hikmah dari kehidupan Manusia, sejak dilahirkan hingga dewasa dan akhirnya kembali ke Haribaan ALLAH SWT, bagaikan indahnya kembang jambu, kemudian berproses menjadi buah yang bermanfaat bagi mahluk lainnya. Semoga Keindahan kehidupan kita tidak sirna walaupun kita telah tiada.

Selamat membaca

Blog ini berisi kumpulan artikel OASE IMAN yang pernah dimuat di http://www.eramuslim.com/oase-iman Banyak hal menarik yang dapat kita teladani dari sauri teladan kisah-kisah dan hikmah dibaliknya. Untuk itu maka, arsip tulisan ini terasa sangat sayang jika hanya disimpan di dalam file saja.

Dengan adanya blog ini, Semoga membawa manfaat bersama kepada saudara-saudaraku semua.

Sahabat KembangJambu, ada di. .

Followers

Diberdayakan oleh Blogger.